depresi

Psikologi Dasar

BAB I
PENDAHULUAN
Antara keadaan jiwa dan keadaan fisik terdapat hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Berbagai penyakit yang disebakan oleh kelainan organik dapat mempengaruhi keadaan psikologik penderitaan dan sebaliknya gangguan emosi dapat memperburuk penyakit-penyakit yang dideritanya.
Telah diketahui, bahwa ketegangan jiwa dapat menjelma sebagai bermacam gejala penyakit yang disebabkan oleh kelainan organik. Anxietas atau rasa cemas diantaranya dapat menjelma sebagai rasa panik. Ketakutan dan teror seperti yang dialami seorang penderita dalam keadaan yang menegangkan misalnya macet dalam lalulintas atau jika berada dalam kerumunan orang banyak dan sering juga tanpa ada sebab. Para penderita gangguan tersebut di atas yang biasanya dikenal sebagai gangguan atau penyakit psikogenetik, psikogenetik atau neurosis perlu mendapat pertolongan baik obat-obatan maupun dengan psikotrapi.
Semua masalah pembangunan kesehatan selalau dipaparkan, ditinjau dan dikaji secara intersektoral dan interdisiplin, demikian juga masalah penyakit dan kesehatan. Pada umumnya kita beranggapan bahwa kesehatan manusia dipengaruhi oleh faktor biologis, faktor lingkungan dan factor prilaku manusia. Ketiga faktor ini menimbulkan berbagai penyimpangan kesehatan. Ditinjau dari segi biolagis penyakit merupakan kelainan pada berbagai organ tubuh manusia, sedangkan dari segi kemasyarakatan keadaan sakit dianggap sebagai penyimpangan prilaku dari keadaan social yang normatif. Jadi penyimpangan itu dapat disebabkan oleh kelainan biomedis organ tubuh atau lingkungan manusia, tetapi juga dapat disebabkan oleh kelainan emosional dan psikososial individu yang bersangkutan.
Cara yang dipakai ialah sistem desensitisasi, yakini dengan mengusahakan releksasi fisik sambil mengkonfrontasi masalah-masalah atau keadaan-keadaan yang menjadi penyebab rasa cemas dan stresnya. Dengan lambatlaun gejala-gejala kecemasan dan stress dapat diatasi atau dikendalikan.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Perasaan dan Emosi
Perasaan (feeling) dapat mempunyai arti. Ditinjau secara fisiologis, perasaan berarti penginderaan , jadi merupakan salah satu fungsi tubuh untuk mengadakan kontak dengan dunia luar. Dalam arti psikologis, perasaan mempunyai fungsi menilai, yaitu penilaian terhadap suatu hal. Makna penilaian ini nampak misalnya dalam ungkapan berikut : “Saya rasa nanti sore hari akan hujan”. Ungkapan itu berarti bahwa menurut penilaian saya, nanti sore hari akan hujan.
Emosi di lain pihak, mempunyai arti yang agak berbeda. Di dalam penegrtian emosi sudah terkandung unsure perasaan yang mendalam (“intense”). Perkataan emosi sendiri berasal dari perkataan “emotus” atau “emovere” yang artinya mencerca (“to stir up”), yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu. Misalnya emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang yang menyebabkan orang itu tertawa. Marah, di lain pihak, merupakan suasana hati untuk menyerang atau mencerca sesuatu.
Aspek – aspek emosi
Menurut C.T.Morgan, aspek-aspek emosi dapat dibagi dalam 4 hal, yaitu :
1. Emosi, adalah sesuatu yang sangat erat hubungannya dengan kondisi tubuh,misalnya denyut jantung, sirkulasi darah dan pernafasan.
2. Emosi adalah sesuatu yang dilakukan atau diekspresikan, misalnya tersenyum, tertawa, menangis.
3. Emosi adalah sesuatu yang dirasakan, misalnya merasa senang, merasa kecewa.
4. Emosi juga merupakan suatu motif, yaitu mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu kalau ia beremosi senang, atau mencegah ia melakukan sesuatu kalau ia tidak senang.
Aspek ketubuhan dari emosi (“Bodily Aspects of Emotion”)
Mengenai aspek ini banyak dilakukan penelitian oleh para ahli dalam bidang “physiological psychology”, Galvanik Skin Response adalah suatu alat yang dapat mengukur perubahan-perubahan yang terjadi pada kulit. Lie Detector adalah alat lain yang lebih rumit, yang dapat megukur perubahan-perubahan emosi melalui beberapa perubahan fisik sekaligus, seperti perubahan tekanan darah, perubahan pernafasan, perubahan di kulit, dan sebagainya. Lie Detector ini khususnya ditujukan untuk mengetahui hal-hal yang berada di bawah kesadaran, sedemikian rupa sehingga orang yang bersangkutan tidak bisa berbohong atau menutupi hal-hal mengenai dirinya. Prinsip yang digunakan pada Lie Detector adalah dengan menggunakan World Association Test dari Jung.
Serentetan kata-kata diberikan kepada orang yang diperiksa dan pada kata-kata yang menyangkut peristiwa-peristiwa yang penting artinya bagi orang yang bersangkutan, maka orang itu akan memperlihatkan perubahan emosi yang akan nampak dan dapat diukur melalui perubahan-perubahan di tubuhnya.
Ekspresi emosionil(“emotional expression”)
Ada tiga macam ekspresi emosionil yang dikenal:
1. “Startle Response” atau reaksi terkejut. Reaksi ini merupakan sesuatu yang ada pada setiap orang dan didapat sejak lahir (“inborn”), jadi tidak dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing individu. Karena itu reaksi terkejut ini sama pada setiap orang, yaitu menutup mata, mulut melebar dan kepala serta leher bergerak ke depan.
2. Ekspresi wajah dan suara (“facial and vocal expression”). Bagaimana keadaan emosi seseorang dinyatakan melalui wajah dan suara.melalui perubahan wajah dan suara kita bisa membedakan orang-orang yang sedang marah,gembira dan sebagainya. Para artis seperti pelukis dan dramawan sangat perlu mempelajari ekspresi wajah dan suara dari berbagai emosi agar dapat menghasilkan karya-karya yang benar-benar baik.
3. Sikap dan gerak tubuh (“posture and gesture”). Sikap dan gerak tubuh juga merupakan ekspresi dari keadaan emosi.

II.2. Kesehatan Jiwa
Untuk sehat tidak cukup hanya badan yang sehat. Jiwa juga harus sehat. Rasa social juga harus sehat. Orang tidak cacat atau menderita kelemahan.
Agar jiwa sehat, sejak kecil anak tumbuh-kembang dalam suasana sehat. Orang tua sehat, orang-orang sekitarnya sehat. Teman-teman sehat. Guru sehat. Dan lingkungan social juga perlu sehat.
Kesehatan jiwa memungkinkan anak berkembang sehat. Keadaan ini diciptakan orang tua di dalam rumah tangga. Dengan demikian, anak akan berkembang penuh. Berkembang sesuai dengan bakatnya. Sesuai dengan kesempatan yang diperolehnya.
Akan tetapi, tidak semua orang tua mampu menciptakan keadaan tersebut. Mungkin karena kurang tahu. Ada pula yang tahu, tapi tidak bisa. Ibu yang terlalu sibuk di luar rumah. Ayah yang jarang bertemu anak-anaknya. Keluarga yang jarang makan bersama. Anak-anak yang tak mengenal ayah-ibunya sendiri.
Masih lebih banyak orang tua yang tidak tahu kebutuhan anak-anaknya. Tidak tahu memenuhi kebutuhan badannya. Tidak juga tahu mengisi kebutuhan jiwanya. Anak berkembang apa adanya. Mungkin menjadi tidak lengkap atau mungkin juga jadi menyimpang .anak salah berkembang .anak mungkin nakal ,menjadi murung ,menjadi jahat atau berkembang tidak normal
Kita mengenal istilah tumbuh kembang .Tumbuh artinya badannya bertambah besar. Kembang artinya jiwanya menjadi bertambah matang. Tumbuh kembang anak membutuhkan asuhan, didikan, dan perawatan ayah ibu yang sehat. Ayah ibu yang tahu mengisi semua kebutuhan anak. Anak yang dibiarkan kekurangan protein sejak bayi, akan bodoh . Anak jadi terbelakang mentalnya. Dengan demikian, jiwanya pun akan kerdil.
Ada beberapa jenis vitamin dan mineral yang berkaitan dengan proses perkembangan yang sehat. Ibu hamil yang kekurangan bahan –bahan ini akan melahirkan anak yang terganggu mentalnya. Atau, anak lahir sehat, tetapi gizi makanannya buruk. Akibatnya sama juga.
Selain kebutuhan badan, anak juga butuh kasih sayang. Butuh sentuhan dan belaian ayah dan ibunya. Butuh perhatian, hubungan hangat dan erat. Ayah dan ibu menjadi tempat anak berlindung. Anak membutuhkan rasa aman. Anak juga butuh rasa dipercaya. Anak perlu bebas berbuat, berpikir, dan menjelajahi lingkungan sekitarnya. Anak tak ingin dikekang, tak mau dibatasi atau dihambat.
Anak bukan orang dewasa yang berukuran kecil. Dunia anak dunia tersendiri tidak sama dengan dunia orang dewasa. Jika kebutuhan anak tak terpenuhi, perkembangan anak akan terganggu. Mungkin anak menjadi rendah diri, tak percaya diri, dan merasa takut dan cemas.
Anak tak boleh dihukum dengan kekerasan. Anak yang dihukum dengan kekerasan buruk perkembangannya. Kelak anak menjadi pribadi yang suka menyerang. Anak menjadi pemberang, kasar, dan penyerang. Anak suka protes, tak puas diri, dan tidak merasa bersalah. Disiplin yang terlalu keras, disiplin yang kaku, disiplin yang tidak sesuai dengan dunia anak, semua ini merugikan anak.
Semua anak memerlukan contoh berpikir, contoh merasakan, dan contoh perbuatan. Contoh ini harus berasal dari orang tuanya. Orang tua menjadi pusat panutan bagi anak – anaknya. Apa yang orang tua katakan harus sesuai dengan apa yang dilakukannya. Orang tua harus melakukan apa yang dikatakan kepada anaknya.
Anak membutuhkan seluruh perhatian orang tua. Anak membutuhkan sikap, ucapan, dan perilaku orang tuanya, membutuhkan sentuhan dan belaian. Membutuhkan segala apa yang tak diperolehnya dari orang lain. Namun anak tak memebutuhkan larangan yang tak perlu. Tak membutuhkan bentakan, kemarahan, cemoohan, atau perlindungan yang berlebihan. Semua itu membuat perkembangan jiwanya terganggu.

II.3.Gizi Salah dan Perkembangan Mental
Gizi salah berpengaruh negative terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia yang semuanya mempengaruhi kesanggupan ekonomi manusia.
Gizi salah yang diderita pada masa periode dalam kandungan dan periode anak- anak,menghambat perkembangan kecerdasan.Anak yang menderita gizi salah tingkat berat mempunyai otak yang lebih kecil daripada ukuran otak rata-rata dan mempunyai sel otak yang jumlahnya 15-20 % lebih rendah dibandingkan dengan anak yang mempunyai gizi yang baik, anak yang mempunyai berat lahir rendah mempunyai berat lahir rendah berarti menderita gizi salah ketika di dalam kandungan sehingga kekurangan sel otak. Sementara itu kepustakaan tentang gizi salah semakin bertumpuk yang membahas gizi salah sebagai penyebab perilaku abnormal dan kelainan yang diderita pada umur muda sehingga dapat menyebabkan kelainan kromosom yang akan tetap bertahan selama hidup.
Gizi salah menghambat kesanggupan anak untuk mencapai syarat bagi kelangsungan hidup sehari-hari.Apakah kerusakan yang diderita pada umur dini akan meninggalkan suatu gejala tetap, merupakan suatu pernyataan rumit yang baru saja mulai dicari jawabnya. Studi dari beberapa negara menunjukkan bahwa anak yang menderita gizi salah, hasil tes mentalnya kurang bila dibandingkan dengan hasil tes mental anak lain yang mempunyai gizi baik. Kekurangan lain yang tak diukur seperti tiadanya rangsangan dan kekurangan kasih sayang ibu bagi anak yang hidup dipanti asuhan ,menimbulkan kesulitan dalam pengukuran untuk memisahkan variable gizi dari factor lainnya. Ada kemungkinan bahwa kelainan primer pada system saraf dan pengalaman yang detektif sering tergantung dan menunjukkan saling mempengaruhi. Tetapi data yang ada menimbulkan kesangsian apakah gizi salah tingkat berat mempunyai efek jangka panjang bukan saja terhadap intelegensia tetapi juga terhadap dasar keterampilan akademis. Para penderita gizi salah tingkat berat pada umur dini yang dapat bertahan hidup berbeda dengan anak-anak yang normal. Adanya hubungan yang erat antara gizi salah tingkat berat yang telah diderita pada anak-anak dengan daya kerja sub-optimal pada umur sekolah tidaklah diragukan lagi.
Apakah kerusakan yang ditimbulkan oleh gizi salah pada umur muda tidak dapat diubah lagi dihari kemudian, banyak diperdebatkan bukti-bukti memberatkan bahwa gizi salah pada anak-anak ,mempengaruhi pikiran anak-anak yang telah terserang itu. Untuk itu sebahagian yang lain yang kurang yakin, kesimpulan tentang efek gizi salah tampaknya dilahirkan terlalu dini. Pertanyaan apakah kesukaran yang ditimbulkan oleh gizi salah berubah atau tidak, demikian mendominasi pemikiran dan penelitiaan terhadapgizi salah sehingga telah membelokkan perhatian dan pertimbangan kebijaksanaan umum mengenai gizi yang lebih penting. Kecendrungan ini dapat dipahami,keadaan tidak dapat berubah memberikan kesan suatu perbedaan sifat yang dramatis, yang mempunyai konsekuensi yang jauh tidak dapat ditolelir dibandingkan dengan suatu perbedaan yang sementara saja tampaknya menjadi keharusan bagi sebagiaan pejabat untuk berbuat sesuatu dengan segera mengenai gizi salah bila penyakit ini menyebabkan hambatan yang tidak dapat diubah, bila tidak demikian akan memberikan kesan yang kurang gawat.
Dipandang dari sudut kebijaksanaan, sikap demikian itu menyesatkan. Gizi salah menghambat motivasi,kesanggupan berkonsentrasi,dan kesanggupan belajar lepas dari pengaruh akhir terhadap otak itu sendiri. Waktu belajar telah hilang pada periode yang paling kritis untuk belajar. Seorang anak penderita gizisalah selalu resah, tidak mempunyai perhatian, tidak bereaksi terhadap rangsangan lainnya.

II.4. Emosi dan Kebangkitan
Tipe-tipe emosi tidak terhitung banyaknya : kegembiraan, kesedihan, keriangan, cinta, benci marah, kesemuanya barulah sebagian kecil, dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda, sejak dari yang ringan hingga yang ekstrim. Mereka dapat dikategorikan sebagai yang positif (misalnya: kesenangan, keriangan, cinta) , dan yang negative (misalnya : benci, marah, takut); dan hamper semua orang secara aktif mencari perasaan emosional yang positif serta berusaha menolak perasaan yang negative.
Ada beberapa studi yang memberikan kesan, bahwa ada dua bagian yang terpisah pada masing-masing emosi yang kita rasakan. Satu diantaranya adalah kebangkitan umum ( general arousal ); inilah yang dipengaruhi oleh taraf aktivitas system saraf autonomic dan dapat berbeda-beda tarafnya, dari yang sangat rendah, hingga kebangkitan tinggi pada emosi yang ekstrem. Kebangkitan umum mempengaruhi taraf perasaan emosi, sedangkan bagian yang lain menentukan tipe perasaan emosi. Sekalipun pengalaman emosi nyata kita tidak merasakan adanya kedua proses yang terpisah ini, namun studi yang dikerjakan Hohmann terhadap beberapa korban perang Vietnam memberikan kesan, bahwa gabungan perasaan yang kita peroleh biasanya dihasilkan dari kombinasi dari kedua tiope aktivitas saraf. Dia menemukan bahwa sekalipun para pasien ini masih mampu merasakan emosi marah atau sedih atau gembira, namun mereka tidak merasakannya dengan cara-cara yang sama dengan ketika mereka belum mengalami luka.para pasien mengatakan,bahwa emosi mereka terbatas intensitasnya bila dibandingkan dengan mereka miliki sebelumnya.sebelum mendeita luka,otak rupa-rupanya mengkombinasikan suatu keputusan mengenai emosi apakah yang dirasakan dengan informasi mengenai kebangkitan umum,untuk menyajikan keadaan emosinal yang dihasilkan.
Suatu studi yang dikerjakan schacther dan singer pada tahun 1962 menunjukkan,bahwa keputusan mengenai tipe perasaan emosi tergantung kepada analisis mengenai mengapa suatu keadaan kebangkitan terjadi.mereka menginjeksi subjek dengan adrenalin,yang mengaktifkan system saraf automomik dan menghasilkan perubahan fisiologis yang sama dengan yamg dalam keadaan normal mengiringi emosi. Penelitian menemukan,bahwa kenaikan frekuensi denyut jantung,merahnya wajah,dan bergetarnya tangan disebabkan oleh adrenalin yang diinterfretasikan dalam cara yang berbeda-beda,tergantung pada informasi yang ada pada diri subjek para subjek ini diberi tahu bahwa mereka ini telah disuntik dengan suatu campuran vitamin.Kemudiaan setiap subjek dimasukkan dalam suatu ruangan bersama-sama dengan orang lain yang diskenariokan untuk melakukan perbuatan,baik gaya orang gembira baik orang marah;orang lain dikenal sebagai ‘subjek suruhan ‘.Schachter dan Singer menemukan ,bahwa para subjek ditemani oleh subjek-suruhan yang marah,akan merasa marah pula. Kelompok subjek yang lain diberi informasi mengenai pengaruh-sampingan obat samping obat secara fisiologis;subjek ini tidak terpengaruhi perilaku subjek- subjek dan yang terjadi bersama-sama dengan emosi sangat tergantung pada interpretasi kognitif terhadap situasi.Perlu dicatat kiranya ,bahawa para peneliti yang lain mengalami kesulitan untuk mengulang studi Schachter ;dan Singer namun diperoleh pula kesimpulan umum,bahwa tidak ada permasalahan lagi mengenai kenyataan bahwa faktor-faktor kognitif mempengaruhi tipe perasaan emosi.
Beberapa reaksi emosi rupa-rupanya bersifat diwariskan di dalam merespons tipe rangsangan tertentu. Beberapa emosi, bagaimanapun, mungkin dihasilkan dari proses belajar. Kita lihat mengenai cara bagaimana para penderita phobia mungkin mengembangkan sifat tersebut melalui penghubungan antara rangsangan netral sebelumnya, dengan suatu pengalamanan traumatic. Proses pelaziman klasik ini merupakan sebuah mekanisme yang mendasar yang memunculkan beberapa emosi kita.
Di samping prosedur pelaziman sederhana, yang akan menaikkan kisaran rangsangan yang dapat mendatangkan suatu respon emosional, perubahan kognitif yang terjadi melalui perkembanganpun memungkinkan seorang anak melakukan deferensiasi yang tidak kentara diantara situasi tertentu yang menghasilkan kebangkitan, sehingga memperlebar kisaran tipe emosi di dalam merespon rangsangan.
Mandler menjelaskan, bahwa emosi terjadi pada saat sesuatu yang tidak diharapkan atau pada saat kita mendapat rintangan di dalam mencapai suatu tujuan tertentu; dia menamakannya sebagai teori interupsi (interruption theory). Adalah interupsi pada sifat permasalahan seperti inilah yang menyebabkan kebangkitan menimbulkan pengalaman emosional. System saraf autonomic pada beberapa orang lebih responsive terhadap interupsi. Keuntungan dari adanya kebangkitan pada orang diartikan bahwa orang dapat memperlihatkan perubahan emosi secara ekstrem, misalnya bergembira pada suatu saat, dan mengalami depresi atau marah pada saat berikutnya, sesuai dengan perubahan situasi, dan dengan demikian menyebabkan interpretasi baru terhadap tipe emosi yang berkaitan dengan kebangkitan yang mendasarinya.
Mendler mengemukakan, bahwa kita mendapat motivasi untuk mencapai apa yang dikatakannya sebagai dorongan-keinginan autonimik (autonomic jag) – yang menarik pada kebangkitan umum – dan ini merupakan satu factor yang membuat kita berubah dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Hampir semua orang dapat menerima berbagai dorongan keinginan autonomic dari interaksi social sehari-hari,namun beberapa orang lainnya sangat tidak responsive system saraf auotonomiknya sehingga hanya dapat dimunculkan keinginannya pabila itdak ditempatkan pada kedudukan yang membahayakan.Orang-orang ini rupanya berperangai sangat tenang dan dikuasai oleh emosi ;kiranya tidak ada sesuatupun yang dapat mengganggu mereka ,namun mereka mungkin akan memperlihatkan perbuatan-perbuatan yang benar-benar sangat kejam kalau menerima dorongan keinginan autonomic yang bertaraf sama dengan yang kita terima,sekalipun dorongan keinginan tersebut bagi kita tidak dipermasalahkan .Orang-orang tersebut,terkadang disebut psikopat atau sosiopat ,kelihatannya tidak merasa bersalah berbuat seperti itu ,hal; ini dapat dijelaskan melalui kenyataan, bahwa didalam merasakan emosi dalam merasakan emosi dalam taraf berapapun ,diperlukan suatu keadaan kebangkitan umum.

II.5. Kesehatan Emosi
II.5.a. Stress
Stress telah dihubungkan hamper dengan semua masalah pengobatan yang kita alami dewasa ini – serangan jantung, hipertensi, penyakit jantung, borok lambung, radang usus besar, sakit punggung, asma, gangguan saraf, bahkan kanker. Namun, stress yang terlalu sedikit dapat mengundang penyakit, yang menyebabkan keltihan, kebosanan, kegelisahan, perasaan tidak puas dan tekanan batin atau perasaan.
Stress terjadi di setiap situasi yang membutuhkan perubahan. Stress termasuk dalam menyelesaikan kepada sesutau situasi dapat mendatangkan perasaan yang sangat menyenangkan : bermain ski dari atas bukit ke bawah, memenangkan suatau perlombaan, mendapat kenaikan pangkat. Stress yang lain mungkin tidak begitu menantang, namun menyebabkan perasaan kekuasaan yang kuat : suatu malam yang romantis, pujian dari teman sekerja, rapor anak yang baik. Masih ada stress yang lain yang bisa membuat kita lelah meskipun mereka baik : pernikahan atau reuni keluarga. Kemudian ada juga stress yang mendatangkan keletihan luar biasa dan menekan: kehilangan pekerjaan, terlibat masalah hukum, anak yang suka memberontak kepada orang tua, perceraian, orang yang sangat dikasihi meninggal.
Kesehatan atau sehat dikatakan adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tekanan-tekanan kehidupan. Jika demikian, orang yang sehat haruslah menemukan cara-cara untukmenjaga irama hidupnya, dengan menjaga agar stress itu berada pada keseimbangan yang positif.
II.5.b. Depresi
Depresi adalah emosi normal, tetapi depresi juga merupakan gejala penyakit medis dan psikologis yang beragam jenisnya. Depresi ditandai dengan perasaan sedih, dan hilang semangat, sering disertai dengan berkurangnya kegiatan fisik.
Marilah kita perhatikan beberapa jenis yang lebih ditemukan.
• Sedih, sering diikuti dengan kegembiraan yang hebat, lemah, atau stress lain yang sejenis itu. Depresi seperti ini biasanya sementara dan akan baik sendiri, jarang memerlukan pengobatan.
• Depresi yang reaktif sebagai akibat dari krisis kehidupan yang keras seperti kehilangan seseorang yang sangat dikasihi, atau kehilangan pekerjaan, perceraian, pindah atau penyakit yang gawat. Efeknya sering bertahan, butuh waktu untuk terjadinya kesembuhan. Usaha-usaha yang menopang diperlukan, dan pengobatan yang lebih agresif jika depresi itu berat atau berkepanjangan.
• Depresi biologis, sebaliknya, sering diawasi. Depresi itu datang dan pergi, biasanya tanpa sebab yang berarti. Depresi ini sering berespon kepada pengobatan, meskipun bisa bertahan sampai beberapa bulan meskipun diobati.
• Depresi psikotik ialah dimana penderitanya hidup di angan-angan, jauh dari realitas: mereka membutuhkan pertolongan professional.
II.5.c. Mengatasi Stress dan Depresi
Beberapa diantaranya yang lebih penting, antara lain :
• Olahraga aktif yang teratur, setidak-tidaknya 30 menit sehari. Olahraga memproduksi endorphins, hormone yang memberi perasaan senang, melidungi tubuh dari stress. Sinar matahari dan udara segar juga memproduksi endorphins, oleh sebab itu berolahraga di luar rumah mempunyai manfaat ganda.
• Makanan sederhana yang berpusat pada makanan vegetaris. Tubuh kita dengan mudah mengelola makanan seperti itu. Sebagai akibatnya ialah bertambahnya energi, efesiansi dan ketahanan.
• Jangan merokok, meminum minuman beralkohol, kafein, atau obat berbahaya lainnya. Semua bahan-bahan ini mencatat utang yang akan kita bayar kemudian, sering mulai besoknya kita harus menerima akibatnya.
• Istirahat cukup. Termasuk tidur malam yang nyenyak dan waktu yang teratur untuk relaksasi dan reaksi.
• Penggunaan air yang leluasa di dalam maupun di luar tubuh. Minumlah cukup air untuk menjaga agar warna kencing putih jernih. Mandi air sejuk atau hangat pagi dan sore akan memberikan perasaan segar.
• Jangkar kehidupan yang kukuh. Iman dalam agama, rumah tangga yang memiliki kasih saying, pekerjaan yang membuatmu merasa berharga, teman-teman yang mengangkat pemikiran, kehidupan yang mempunyai tujuan – semua ini adalah laksana vaksin untuk stress.
• Sikap mental positif

II.6. Epidemiologi dan faktor stress
Dilaporkan banyak percobaan dengan binatang atau manusia yang mengemukakan bahwa berbagai kejadian yang dapat menyebabkan suatu keadaan stress, mempunyai konsekuensi yang fisiologis dalam tubuh indivdu yang terkena. Namun tidak banyak diketahui tentang keadaan stress ini dan akibatnya dalam tubuh di luar situasi percobaan, atau diluar laboratorium yang sudah dipersiapkan untuk itu. Sehubungan dengan mereka yang dalam lapisan social bawah, dapat kita simpulkan bahwa mereka memang dapat diterima sebagai mengalami stress dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun diketahu juga berbagai perubahan dan stress dan kehidupan bukan merupakan satu-satunya sebab terbukanya individu terhadap penyakit. Penanggulan itu bukan hanya menyangkut berbagai reaksi psikologis namun terutama menyangkut suatu pola umum individu menghadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Pola penanggualan itu merupakan hasil keadaan lingkungannya dan bukan berupa factor yang tidak tergantung padanya. Merokok misalnya dapat merupakan suatu reaksi penanggulangan yang dapat diartikan dengan banyak kasus morbiditas dan mortilitas. Begitupun kegemukan dapat merupakan suatu reaksi penanggulangan yang dapat dikaitkan dengan banyak jenis penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.
Selain stress karena perubahan dan kejadian penting dalam kehidupan, dikenal juga stress karena pekerjaan. Bila jenis stress pertama diketahui banyak menyangkut lapisan social bawah dalam masyarakat dunia, maka stress pekerjaan terutama berkaitan dengan lapisan social lainnya, walaupun lapisan bawah tidak terbebas sepenuhnya.
Stress pekerjaan terlebih dikenal sebagai penyebab jantung koroner, yaitu penyakit atau kelemahan jantung karena penyempitan pembuluh darah pada dinding jantung yang menyebabkan kerusakan dinding jantung dan hilangnya daya kontraksi otot jantung, karena kurang mendapat oksigen dan kekuatan jantung untuk memopa darah ke seluruh tubuh. Factor stress pekerjaan memegang peranan penting dalam etiologi penyakit jantung selain stress pekerjaan, juga diet, kegiatan fisik, merokok dan lainnya dapat menyebabkan penyakit jantung ini, namun karena terbukti bahwa pengaruh stress terhadap mekanisme suatu penyakit lebih besar daripada zat makanan dan merokok ( tar dalam tembakau ), banyak peneliti telah mencurahkan perhatian pada mekanisme factor stress dalam etiologi penyakit jantung ini.

II.7. Psikopatologi
Psikopatologi adalah lapangan psikologi yang berhubungan kelainan atau hambatan kepribadian yang menyangkut proses dan isi kejiwaan. Dalam psikopatologi dikenal tiga golongan besar kelainan atau hambatan kepribadian yaitu :

I.7.a. Psikosa
Psikosa ialah gangguan kejiwaan yang meliputi keseluruhan kepribadian seseorang, sehingga orang yang mengalami tidak bisa lagi menyesuaikan diri dalam norma-norma yang wajar dan berlaku umum. Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
1. Psikosa fungsional
Factor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan atau penglaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang.
2. Psikosa organic
Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, kalau jelas sebab-sebab dari suatu psikosa fungsional adalah hal-hal yang berkembang dalam jiwa seseorang.
II.7.b. Psikoneurosa
Psikoneurosa atau dengan singkat dapat disebutkan neurosa saja, adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian daripada kepribadian, sehingga orang-orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa atau masih bisa belajar dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
II.7.c. Psikopat
Golongan ketiga ini merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan kesulitan penyesuaian diri atau timbul ketidakmauan untuk mengikuti norma-norma yang ada di lingkungan. Karena itu istilah psikopati sering disinonimkan sosiopsikopati. Penderita memperlihatkan adanya sikap egosentris yang besar, seolah-olah patokan untuk semua perbuatan adalah dirinya sendiri saja. Cirri lain adalah keinginan untuk menguntungkan diri sendiri tanpa memperdulikan oleh pihak lain.
Dalam bentuk yang ringan, gangguan kejiwaan seperti di atas disebut character disorder yang dapat kita lihat misalnya pada seseorang yang eksentrik yang berdandan sesuai dengan selerany sendiri tanpa memerlukan apakah dandannya itu akan menjadi bahan tertawaan atau tidak.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesehatan emosi berkaitan erat dengan kesehatan dan kondisi jiwa seseorang. Kesehatan emosi juga berkaitan dengan kondisi fisik seseorang apakah ia memiliki kondisi tubuh yang fit, bebas tekanan ( stres dan depresi ), mental yang kuat dan sebagainya. Keadaan tubuh atau fisik yang kuat saja tidak cukup untuk mencegah adanya gangguan emosi pada seseorang. Dalam hal ini asupan gizi turut mempengaruhi untuk tetap menjaga kebugaran sehingga tidak hanya kesehatan fisik yang didapat tetapi juga kesehatan jiwa.
Sebaliknya kesehatan emosi juga dapat mempengaruhi kondisi tubuh. Jika keadaan jiwanya tidak stabil, yang disebabkan stress atau depresi, maka fisiknya juga dapat menjadi lemah. Karena jiwa, perasaan, dan emosi seseorang sangat mempengaruhi keadaan fisik orang tersebut.
Cara untuk mengatasi kelabilan dari kesehatan emosi ini dapat dilakukan dengan cara memakan makanan yang sehat yang disertai asupan gizi yang cukup bagi tubuh, melakukan olah raga secara teratur, dan istirahat yang proporsional. Rekreasi atau liburan ke suatu tempat yang relatif menyenangkan dapat juga menjadi salah satu cara untuk mengembalikan kesehatan dan menekan stress.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Berg, Alan dan Robert J. Muslal. 1987. Faktor Gizi. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
2. Dirgagunarsa, Singgih. 1982. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara Sumber Widya.
3. Hardy, Malcom dan Steve Hayes. 1988. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.
4. Ludington, Arleen dan Hans Diehl. 2002. Hidup Yang Dinamis. Jakarta : Publishing House Ofset.
5. Luminta, Benyamin. 1989. Penyakit. Jakarta : Kanisius.
6. Nadesul, Hendrawan. 1997. Pemeliharaan Kesehatan. Jakarta : Puspa Swara.
7. Suroto. 1994. Stress. Jakarta : Gajah Mada University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: